Sunday, April 18, 2010

Menangis

Bukan berarti cengeng jika seringkali tetesan² airmata menjadi akhir atau penutup dari sebuah perenungan atau kegelisahan, karena seringkali kita tidak mampu menemukan jawaban atau jalan akhir atas apa yg terjadi maka menangis menjadi salah satu cara yg melegakan meski sumber permasalahan tidak terselesaikan hanya dengan menangis.

Mungkin tabu bagi para adam untuk menangis apalagi dg frekuensi yg tinggi dan dilakukan di muka publik. Maka dari itu aku bersyukur terlahir sebagai turunan hawa karena tidak ada yg menabukan aku untuk menangis, sesegukan sekalipun dimana saja dan kapan saja aku merasa perlu melakukannya. Menangis saja sudah cukup untuk memberi ruang bagi sesak meronta, melegakan.. Menyisakan kembali ruang untuk bernafas dengan lega meski sumber masalah mungkin masih menghantui.

Aku juga sering menangis tanpa aku mengerti kenapa dan untuk apa, buliran-buliran itu tiba-tiba saja sudah mebanjiri kedua pipiku dan membasahkan bola-bola mataku. Aku sesegukan, terkadang menjerit memekikan entah apa yg memenuhi kepala, hati dan sukmaku.. Membebaskan apa yg terpenjara sekian lama dalam belenggu ragaku pada rongga jiwaku, melepaskan kepenatan yg menggayuti hati dan menyesakan.. Aku ingin kegelisahan sirna ketika tangisku reda, aku mau ragaku lega tatkala menangisku usai.

Baru saja aku keringkan sisa-sisa air mata itu, kepedihan yg kutitipkan pada segukan masih juga belum sirna.. Mungkin tangisku kali ini terhalang ruang dan waktu, karena sepasang mata bening tanpa dosa itu memandangiku penuh cemas.. Mengulurkan jemarinya untuk menghapuskan deraian tangisku, dan aku lebih mampu menunda tangisku daripada harus kubiarkan kedua mata tanpa dosa itu ikut menangis.. Aku menangis untuk diriku sendiri, untuk kebodohanku dan juga kepedihanku.. Namun tak akan kubiarkan tangisku menjadi perih bagi yang lain..

selamat menagis untuk yang mebutuhkan ;p
-thank you-

dongeng hidup Blog re-Design by Cebong Ipiet © 2008|Support by Mobil Keluarga Terbaik Indonesia

Back to TOP