Friday, July 10, 2009

Mentari dan Rembulan

Dua benda langit yang tidak pernah selesai saya nikmati indahnya, seperti saya tidak pernah berhenti bersyukur dianugerahi dua bola mata yang sehat untuk dapat menikmati banyak sunset dan purnama.

Sunset..
Saya selalu menikmati jingganya yang semarak ketika senja mengembalikannya pada sang malam, seperti kedamaian yang mengembalikan saya dari keletihan.. Menghilangnya dibalik batas air laut seperti mengantarkan lelah pada peraduan..

Purnama..
Malam bulan purnama adalah malam yg selalu saya nanyi-nantikan, rembulan dengan sinar yang sempurna pada bulatnya adalah keelokan maha dahsyat yang menggelayut indah pada langit gelap tak bertiang..

Sunset dan purnama, ketika kedamaian jiwa selalu saya temukan ketika menikmatinya..

Kedua fenomena alam tersebut biasanya saya nikmati pada saat yang tidak bersamaan, tentu saja sunset pada akhir siang dan purnama pada malam hari ketika rembulan memulai tugasnya.

Tetapi tidak pada hari itu, suatu senja pada hari ketujuh di bulan Juli beberapa hari yang lalu.. Keduanya saya nikmati pada saat yang bersamaan meski pada ufuk yang berbeda, sunset di ufuk barat ketika saya tertegun pula menyaksikan rembulan yang sudah penuh meski belum sempurna pada langit timur..

Masya Allah, saya tertegun takjub menyaksikan kebesaran Allah yg Maha Agung pada fenomena tidak lazim tersebut.. Mungkin karena baru kali itu saya pertama kali menemukan moment seperti senja pada hari ketujuh di bulan juli itu maka saya merasa menikmati sebuah ketidak laziman meski mungkin sebenarnya sebuah fenomena alam yg biasa saja bagi yang sering menyaksikannya..

Gusti Allah, betapa Engkau menciptakan senja yang begitu indah bagi kedua bola mataku meski menyisakan tanya dan pikir pada benakku akan sebuah pertanda tentang sebuah akhir jaman.. Senja itu begitu indah dengan sunset dan purnama terang..

Thanks God, for sunset on a full moon...

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, July 4, 2009

Mama..

Tubuh renta itu akhirnya mengalah pada lelah menahan nyeri setelah berhari-hari bersikukuh bahwa beliau baik-baik saja..
Hampir selalu begitu mama menyikapi sakitnya, sebelum benar-benar tidak sanggup lagi mama pasti akan menahan sakitnya dan menolak dibawa berobat ke dokter. Alasannya selalu sama, tidak mau merepotkan orang lain..

Duh mom.. ini kewajiban kami untuk direpotkan, setelah apa yg mama lakukan untuk kami sejak kami menghuni rahimmu. Apalah artinya menjagamu satu atau dua minggu saja dibandingkan apa yang sudah mama lakukan buat kami. Dan aku ingin mama tau bahwa aku tidak pernah merasa direpotkan, ini kewajiban.. Pengabdianku untuk mama yang sudah mencintaiku sebegitunya..
Mama..
Dalam sakitmu aku tau, ada sakit lain yang kau pendam dan itu yang menyakitkanmu melebihi apapun.. Aku ingin mama tau, kami anak-anakmu sangat mencintaimu dan berharap mama akan baik-baik saja dalam kesulitan seberat apapun. Kita, dalam kebersamaan ini akan saling menguatkan dalam pahit terberat sekalipun karena hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini selain berdoa dan memohon Allah mengeluarkan kita dari pahit ini..
Mom, get well soon.. We love you much.. Pasrahkan pada-Nya apa yg terbaik bagi kita, dan ijinkan ragamu pada sehatnya dengan mendamaikan jiwa dan ingatmu..

Friday, July 3, 2009

Rarungsing

Tiap orang punya cara yang berbeda untuk meredakan kerungsingannya masing-masing [rungsing = gelisah dalam bahasa sunda].
Begitu juga dengan aku, hampir selalu ketika kerungsingan mengganggu aku meredakannya dengan pergi sendirian tanpa tujuan yg pasti. Berputar-putar keliling kota adalah cara yang paling sering kulakukan, atau kadang setelah lelah berputar-putar tanpa arah aku memarkirkan kendaraan di suatu tempat yang menenangkan seperti taman, pantai atau sejenisnya. Di tempat-tempat itu aku bisa berjam-jam berdiam di dalam kendaraan untuk sekedar mendengarkan radio atau mp3 atau sesekali aku turun sekedar berjalan-jalan untuk menghirup udara segar lalu mengistirahatkan kerungsinganku dengan duduk merenung..

Biasanya setelah ritual-ritual seperti itu kegelisahanku akan sedikit reda atau bahkan habis sama sekali, setidaknya cara seperti itu selalu berhasil mengurangi beban di hati dan otakku. Mungkin caraku sedikit aneh seperti beberapa orang teman dan sahabat menilainya, tapi itulah cara terbaik untukku daripada aku harus manyun dan uring-uringan di rumah.. Kasian orang rumah kalo gitu bisa ikutan rungsing juga hehe..

Well.. Setiap orang pasti juga punya cara masing-masing untuk meredakan kegelisahannya, meskipun ada yang kelihatan aneh buat orang lain tapi itu sah-sah aja kok.. Lawong gelisahnya punya kita yang lain cuma nonton hehe..

So, gimana cara kalian meredakan gelisah ? Apa yg kalian lakukan ketika sedang rarungsing ?

dongeng hidup Blog re-Design by Cebong Ipiet © 2008

Back to TOP