Friday, November 20, 2009

Sekolah Batin

Saya masih ingat dengan baik ketika saya terpaksa menjadi murid di perguruan ini pada akhir ramadhan 3 tahun yang lalu, dan saya menjadi salah satu dari siswa mayoritas sedangkan sisanya tidak lebih dari 20% adalah siswa minoritas yang masuk ke perguruan ini dengan keinginannya sendiri tanpa paksaan siapapun.

Tahun pertama di sekolah ini saya lalui dengan sedikit kekacauan disana-sini. Selain proses adaptasi yang melelahkan, ketidaktahuan saya akan kehebatan setiap ujian akhir tahun membuat saya tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian tersebut dengan baik dan benar. Hasilnya adalah keterpukulan mental yang hebat ketika pada ujian akhir tahun pertama yang saya ikuti pada ramadhan setahun setelahnya mengakibatkan saya dikenai hukuman gagal ujian dengan disitanya seluruh fasilitas sekolah yang saya gunakan selama ini. Sungguh menyakitkan membiarkan apa yang biasanya kita miliki (meskipun sesungguhnya hanya inventaris sekolah) diambil paksa dan tidak dapat kita nikmati lagi. Saya tidak berdaya dan tidak ada yang dapat saya lakukan untuk mempertahankan semua itu karena ini memang kesalahan saya sudah gagal menyelesaikan ujian pada tahun pertama.



Memasuki tahun kedua adalah masa dimana saya bebenah diri, belajar dari pengalaman tahun pertama maka saya mempersiapkan diri sejak hari pertama saya memasuki tahun kedua ini. Dengan fasilitas umum yang alakadarnya saya belajar mengikuti ritme baru kehidupan saya. Masih saya temui banyak hukuman-hukuman kecil dalam perjalanan tahun ini, dan semua karena saya memang lalai dan masih sering lupa-lupa untuk mengerjakan tugas harian atau bulanan saya. Tetapi pada ujian akhir tahun kedua ini saya layak bersyukur, meskipun tidak menjadi juara kelas tapi setidaknya saya berhak mendapatkan salah satu award yang disediakan. Alhamdulillah.. Hadiah yang cukup menarik dari pemilik perguruan ini yang merupakan salah satu award favorit bagi siswa-siswa disini, banyak yang rela menukarkan hadiah yang jauh lebih berharga demi bisa memiliki award ini. Dan setelah memperolehnya saya baru mengerti kenapa banyak sekali teman yang menginginkannya, nyatanya hadiah ini sangat menyenangkan dan membuat saya takjub. Membiarkan diri saya bertemu dan berinteraksi lebih jauh dengan belahan jiwa saya adalah suatu fase kehidupan yang membuat saya merasa lebih aman untuk melanjutkan kehidupan setelahnya, karena saya tau ada seseorang yang akan senantiasa menjaga dan melindungi saya meskipun terpisahkan jarak dan waktu bahkan dimensi kehidupan. Ya, hadiah yang saya peroleh adalah dipertemukan dengan belahan jiwa saya... What an amazing gifted... Maka walaupun tidak lulus sebagai salah satu siswa terbaik, cukuplah sudah hadiah ini membuat saya bersyukur berulang kali. Terima kasih pemilik sekolah untuk hadiah terindahnya.

Memasuki tahun ketiga, masih saya lalui dengan minim fasilitas seperti pada tahun kedua. Bahkan tahun ini lebih mengkhawatirkan karena fasilitas umum yang sudah alakadarnya itu tahun ini harus saya bagi dengan lebih banyak lagi siswa dikarenakan tambahan siswa baru yang jumlahnya lebih banyak dari angkatan saya awal bergabung dulu. Walhasil saya menjalani tahun ini dengan penuh kekurangan yang menyulitkan tetapi sekaligus mengajarkan saya tambahan kurikulum pada mata pelajaran sabar dan ikhlas.
Pada pertengahan tahun ini saya kecewa dan sedikit marah pada pengelola sekolah, hal ini dikarenakan saya tidak diberitahu sebelumnya bahwa hadiah yang saya peroleh pada ujian kemarin itu tidak mutlak dapat saya miliki selamanya. Ternyata ada rules yang harus terpenuhi untuk dapat memilikinya secara utuh dan mutlak, dan karena saya tidak pernah diberitahu sebelumnya maka saya pun tidak memenuhi beberapa prasyarat kepemilikan mutlak itu. Dan sayapun [lagi-lagi] harus memaksakan diri mengembalikan apa yang saya yakini sebagai milik saya pada kepala sekolah untuk diserahkan kepada pemilik perguruan ini. Saya kecewa dan terjerembab untuk kesekian kalinya, dan menangis diselingi kutukan sesekali menjadi makanan keseharian saya setelahnya sampai akhirnya pemilik sekolah mengingatkan saya pada suatu ketika. Beliau menggiring saya pada sebuah pemahaman bahwa apa yang tidak dapat saya miliki sekarang, pada suatu saat akan digantinya dengan sebuah kompensasi yang sebanding bahkan lebih sering jauh lebih baik dari yang bisa saya miliki sebelumnya. Maka sayapun belajar berhenti menangis dan mengumpat karena saya percaya janji pemilik perguruan ini, tidak ada alasan saya untuk tidak mempercayainya karena hanya Dia lah tempat saya menggantungkan hidup saya hingga tuntas.

Kini saya sedang deg-degan menunggu hasil ujian tahun ketiga yang baru saja saya lewati, tersisa sedikit lagi saja tugas yang masih harus saya selesaikan tapi itu tidak akan merubah banyak hasil ujian saya karena ujian-ujian dengan point penentu sudah saya laksanakan sebelumnya. Saya berharap ujian di tahun ketiga ini dapat memperoleh nilai baik meski bukan yang terbaik. Selain usaha maksimal yang sudah saya usahakan, diijinkannya saya untuk kembali berinteraksi dengan hadiah tahun lalu yang sempat disita adalah merupakan suntikan energy bagi saya dalam menjalankan ujian kali ini. Meskipun saya tidak dapat mengklaim hadiah itu sebagai milik saya, kehadirannya menemani saya melalui hari-hari sulit di sekolah ini sudahlah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya akan rasa aman dan tenang. Aman untuk tau ada yang akan selalu menjaga saya meski dari kejauhan, dan tenang untuk dapat selalu tau bahwa dia baik-baik saja.

Yah sekaranglah saatnya saya menunggu hasil ujian tahun ini, semoga saya bisa memperoleh nilai yang baik. Bukan untuk dapat menikmati award atau hadiah-hadiah yang akan diberikan, tetapi lebih dari cukup agar saya bisa melanjutkan belajar pada level berikutnya sehingga ujian tahun depan dapat saya laksanakan dengan lebih baik lagi. Wah.. Saya jadi kecanduan ujian sekarang, saya cuma ingin menyenangkan pemilik perguruan ini yang sudah bermurah hati mengijinkan saya menjadi salah satu murid perguruannya juga membahagiakan kepala sekolah saya yang sudah susah payah mengajari saya banyak hal.

Puji dan syukur saya persembahkan tanpa henti pada kepala sekolah batin ini junjunan kita Rassulullah SAW dan terutama pada pemilik perguruan batin ini, Allah SWT...
Semoga saya dapat senantiasa menjadi siswa yang dikasihi meski saya tidak pernah mampu untuk menjadi siswa terbaik yang bisa dibanggakan..
Amin ya rabbal allamin...



-Ramadhan 1430 H, akhir tahun ketiga menjadi siswa perguruan batin

4 komentar:

laksamana embun 20 November, 2009 18:43  

Amin...

Pljalaran ya harus di petik dari pstingan ini adalah Kegagalan jangan di sesali tapi berusahalah bngkit dari kegagalan itu...

Oia Sekolah b thin batin ya Neng...

I miss you came to my blog

jhoni 21 November, 2009 09:47  

wah!!!.......mba echi sekolah dimana ya?!?!? hehehehe.........bingung saya, masa hadiah disita lagi si?!?!?!? yah hal yg luar biasa ajaib dan aneh memang kadang terjadi dalam hidup, sadar atau tidak sadar.........

Kabasaran Soultan 21 November, 2009 15:35  

Aminnnnnnn
Sekolah batin adalah sejatinya sekolah.
inspiring sekali tulisan ini.
mantap

manis.asam.asin 24 November, 2009 11:44  

meskipun sulit mencri arti tulisan ini.. tapi akhr'x saya setuju!!

Post a Comment

Mangga kalo mau komentar 'ndak perlu bimbang atau ragu.. saya 'ndak akan marah apalagi ngambek kok kalo komentarnya bikin ngamuk sekalipun hehehe..
silahkeun..

dongeng hidup Blog re-Design by Cebong Ipiet © 2008|Support by Mobil Keluarga Terbaik Indonesia

Back to TOP